Bupati Purwakarta dan masalah kita dengan hama politik.

Menyedihkan memang. Merasa benar berdasarkan banyaknya dukungan atau teman. Bupati Purwarkarta itu kebablasan karena sok asyik. Bahkan setelah dihujat di sosial media pun dia tidak meminta maaf sepenuhnya.

http://m.liputan6.com/regional/read/2665984/penjelasan-bupati-dedi-soal-foto-pegang-paha-siswi-smp?utm_source

Assuming bahwa dia tidak paham kalo itu salah (karena budaya patriakat yg melekat di dirinya), apa yang membuat dia memposting itu kalau bukan karena ingin memperoleh perhatian? Sok asyik.

Sekarang, kita mesti menjelaskan pada publik bahwa perilaku Bupati itu keliru di banyak level. Kita bisa berdiskusi tergantung tingkat mana yg mau digugat.

Dari hukum formal, apakah ada wewenang Bupati untuk menghentikan pelajar berkendara di jalan tanpa helm. Dari mana wewenangnya? Ingat, kalaupun dia membawahi dinas pendidikan cakupannya hanya pada lingkup sekolah. Bukan jalan raya. Dia bisa bikin peraturan pelajar dilarang membawa motor DI sekolah. Sebelum masuk pintu sekolah, itu urusannya polisi.

Dari segi etika, apakah pantas dia menjadikan anak itu sebagai bahan untuk dipermalukan di sosial media. Etika ini mendiskusikan kepantasan. Bukan salah atau benar. Sebagai bentuk penghukuman, terkadang public humiliation itu bisa dibenarkan. Tapi apakah pantas? Apakah, jika itu memang salah, seimbang dengan rasa malu yang akan ditanggung korban. Untuk jangka waktu yang lama.

Dari diskusi moral, apa dasar Bupati itu menganggap moralitasnya lebih tinggi dengan menyalahkan cara perempuan berbusana? Dalam konteks yang sama, apa dasar moralitas yg mengijinkan dia untuk memegang (paha) perempuan tanpa ijin? Buat saya dia tidak punya moral superiority. Period.

Kita bisa mendiskusikannya. Lain kali.

Fokus saya kali ini adalah problema buzzing tokoh politik. Yang sering menghasilkan sosial disorder akibat kebablasan. Semata karena bertaburan hama-hama politik.

Kalau anda lihat perilaku-perilaku yg ditunjukkan Bupati Purwakarta, anda tahu kalau semuanya ada desainnya. Ada konsultan politik dan buzzernya. Hama politik.

Bupati Purwarkarta ini akan mencalonkan diri jadi Gubernur Jawa Barat tahun 2018. Menyadari lawan politiknya akan berasal dari kubu Islam konservatif, jauh-jauh hari dia sudah melakukan tindakan pre-emptive. Dia sudah melancarkan provokasi-provokasi pada kubu FPI. Dari mulai mengganti Assalamualaikum dengan Sampurasun sampai menikahi Nyi Roro Kidul secara simbolik.

Tidak ada satupun dari provokasi-provokasi itu terkait dengan kesejahteraan warganya. Atau bahkan budaya, jika itu yang jadi tujuannya. Ini setting politik. Dan buat saya itu busuk karena potensinya untuk memecah belah warga.

Saya berseberangan dengan kubu konservatif. Jauh. Garis batasnya aja belum tentu kelihatan.

Namun, saya memahami perbedaan itu dalam sesuatu yang substantial. Penolakan hukum agama di wilayah privat dijadikan hukum positip di wilayah publik. Saya tidak berposisi untuk merendahkan keyakinan mereka. Apalagi melakukan provokasi” yang membuat mereka marah.

Secara substantif, apa yang dilakukan Bupati Purwakarta soal busana pelajar tadi sudah menyeberang ke kubu konservatif. Dia tidak sadar karena permusuhannya dengan FPI adalah agenda kampanye. Bukan ideologis. Ini yang membuatnya double busuk.

Konsultan politik dan barisan buzzernya hanya bekerja untuk memenangkan kandidatnya. Mereka akan pakai cara sekotor apapun. Dan ini peringatan bagi kita.

Padahal, dibalik pemilihan pejabat publik, ada kekuasaan yang harus digunakan untuk kesejahteraan warga dan kehidupan sosial yang lebih baik. Hulunya adalah pandangan ideologis, sementara hilirnya memang tindakan pragmatis.

Politik popularitas yang diendorse oleh konsultan politik dan buzzer telah memutus aliran hulu dan hilir ini. Mereka bermain di muara yang penuh pragmatisme sementara buaya mengintai di mana-mana. Sosial disorder.

Sekarang, kepada siapa saya harus menyeru?

Para konsultan politik pasti marah kepada saya karena periuk nasi mereka terganggu. Tentu saja saya harus membuat disclaimer. Beberapa konsultan politik memiliki cukup integritas untuk tidak merusak tatanan sosial melalui kampanyenya. Respect.

Politikus yang ada sekarang justru adalah politikus-politikus yang pragmatis didikan orde baru. Hanya beberapa yang saya tahu memiliki basis ideologi kuat yang tidak akan mau jadi boneka konsultan politik untuk pencitraan. Sisanya?

Jadi kepada andalah saya bicara. Saya percaya orang-orang yang datang ke blog saya ini memiliki kemampuan dan kemauan untuk melihat Indonesia yang lebih baik. Jaga kewarasan. Jangan mau dibenturkan oleh kepentingan-kepentingan politik sesaat. Jangan pernah mau dibohongi pake buzzer. Okay?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pergub plintiran untuk jualan KLB. Ahok. 

Hari selasa yang lalu kompas muncul dengan berita seperti ini.
http://kom.ps/AFvh3j

Ini adalah bukti nyata dari semua concern yang telah berkali-kali saya sampaikan di twitter. Kompensasi pengembang ini merupakan bola liar yang sangat mungkin disalahgunakan. Muaranya karena kompensasi ini tidak masuk ke dalam sistem penganggaran. Off budget.

Kompensasi pengembang ini diatur menurut Pergub no 119/ 2016 sebagai revisi yang kedua dari Pergub no 175/2015 tentang hal yang sama. Pengenaan kompensasi terhadap pelampauan KLB (Koefisien Lantai Bangunan). Revisi pertama dilakukan melalui Pergub 251/ 2015.

Berdasarkan Pergub ini pemilik bangunan yang ingin untuk melampaui KLB yg ditetapkan di zona bangunannya dapat MEMBERI kompensasi berupa fasilitas layanan publik.

Ini adalah jenis layanan publik yang bisa dijadikan sebagai kompensasi.

Gedung KPU provinsi adalah asset pemerintah DKI dan mengacu pada butir j. memang perbuatan itu memiliki payung hukum.

Namun perlu diingat bahwa Pergub ini ditetapkan pada tanggal 25 Mei 2016. Sangat patut dicurigai dibuat hanya untuk menjadi dasar hukum bagi perbuatan serupa ini. Karena pada Pergub sebelumnya (revisi pertama) layanan publik yang diperbolehkan hanyalah:

Perhatikan sebelum akhir mei 2016 tidak ada kompensasi dalam bentuk butir j pada revisi terakhir.

Renovasi gedung KPU itu dilakukan mulai bulan Juni dan 95% nya selesai pada bulan Juli seperti pada berita ini. Jadi?

http://m.beritajakarta.com/read/34319/Renovasi_Kantor_KPU_DKI_di_Salemba_Capai_95_Persen#.WAg4uBRSlLI.twitter

Ahok masih harus menjelaskan bagaimana komputer dan laptop bisa masuk kedalam renovasi itu. Akrobat yang dilakukan adalah mengatakan laptop itu sebagai pinjaman. Namun keterangan itu justru menyisakan banyak pertanyaan. Kalau laptop itu pinjaman dibelinya melalui pos anggaran apa? Karena dalam APBD yang disetujui oleh DPRD, tidak ada anggaran untuk melakukan itu.

Kasus ini masih akan terus bergulir dan kita belum tahu ujungnya. Ahok seperti biasa adalah seorang pesulap. Dia telah lolos berkali-kali.

Namun yang sangat nyata di sini adalah bagaimana kekuasaan digunakan tanpa ingin diawasi. Dia bisa bikin Pergub apa saja dan kapan saja untuk menutup jejaknya.

Pertanyaannya apakah Pergub dan bahkan diskresi yang dilakukan memenuhi amanat UU atau Perda yang dirujuknya? Mari kita bahas.

Pergub 175/ 2015 dan revisi”nya diturunkan dari Perda no 1 tahun 2014 tentang Rencana Detil Tata Ruang dan Peraturan Zonasi. Perda ini rencananya akan diperbaharui dengan memasukkan pulau reklamasi. Namun pembahasannya masih ditunda karena adanya kasus suap di sana.

Perda no 1 ini tentu akan mengacu pada UU 26 tahun 2007 tentang tata ruang. Karena Pergub 175 ini bicara tentang KLB tentu juga mengacu pada UU UU no 28 tahun 2002 tentang bangunan. Yg didetailkan oleh PP no 36 tahun 2005.

Apa yang sebenarnya dibicarakan tentang kompensasi dalam UU, PP dan Perda itu? Apa yang membuat saya bilang Pergubnya Ahok adalah plintiran?

Kata kompensasi pada UU bangunan ada pada bahasan KDB (koefisien densitas bangunan). Ini tertera pada penjelasan pasal 19 PP 36 tahun 2005.

Kita lihat apa semangat pasal.
Jika dibaca dengan hati-hati, pasal itu mendorong building owner untuk memberi fasilitas publik. Manfaat fasilitas publik itu tentu untuk mengimprove koefisien densitas bangunan di AREA itu. Kalau KDB nya menjadi lebih baik, bolehlah pemilik bangunan melampaui KLB yg ditetapkan untuk zona itu. Jadi pemerintah MEMBERI kompensasi atas upaya baik yang dilakukan pemilik gedung.

UU tata ruang juga masih sebangun. Pemerintah memberikan insentif/disinsentif untuk PENATAAN RUANG.

Artinya insentif dan disinsentif dibuat agar semua pihak MEMATUHI rencana detil tata ruang dan peraturan zonasi. Di sana memang disebutkan kata kompensasi. Namun kompensasi yang dimaksud di sana terbatas pada pemerintah daerah lain atau masyarakat. Jadi pemerintah MEMBERI kompensasi.

Dalam perda no 1 tahun 2014 masih belum berubah semangatnya. Menyadari bahwa aturan zonasi tidak mungkin dilakukan tanpa fleksibilitas, ada bagian yang mengatur Teknik Pengaturan Zonasi.

Pada prinsipnya pemprov diberikan kewenangan untuk “melanggar” aturan zonasi yg ditetapkan sepanjang ada pengimbangnya.

Hal ini yang mengijinkan pengimbangnya berada di luar area pemilik gedung. Jadi dalam Perda no 1 tahun 2014 pengimbangnya bisa ada di daerah lain.

Saat pengimbangnya itu dilakukan oleh pemilik gedung maka pemprov MEMBERI kompensasi dalam bentuk TPZ bonus pelampauan KLB.

Perhatikan dalam Perda no 1/2014 tidak dimasukkan unsur pembangunan/perbaikan fasilititas pemerintah. Ini yang diperkosa oleh Pergub 119/2016. Kenapa saya bilang begitu?

Karena semangat dalam pengaturan TPZ bonus itu adalah memelihara integritas tata ruang. Beli laptop atau memperbaiki gedung KPUD bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai pengimbang dalam TPZ ini. Jauh sekali.

Dalam Pergub 175/ 2015 dan revisinya, cara pandangnya sudah berubah. Lihat bunyi Pergubnya. Pengenaan Kompensasi atas Pelampauan KLB. Di sini pemprov adalah pihak yang MEMINTA kompensasi.

Pembela Ahok akan bilang esensinya sama. Itukan masalah tukeran aja. Barangnya itu” aja. Apa yang beda dengan

1. memberi fasilitas lalu diganjar (dikompensasi) dengan TPZ bonus. 

Dan 

2. Melampaui KLB lalu bayar pakai fasilitas publik?

Semangatnya. Dalam UU semangat atau tujuan pasal per pasal itu penting. Mestinya tidak boleh diplintir seenaknya. Dalam UU induknya, semangatnya adalah memberikan insentif agar tercipta tata ruang yang baik. Dalam pergub semangatnya adalah jualan. Ini sangat berbeda.

Karena yang ada di otak Ahok adalah dagang, dia sudah lupa pada esensi TPZ. Menjaga integritas tata ruang. Akhirnya sesuatu yang bukan merupakan pengimbang bisa masuk jadi butir dalam aturan kompensasi. Seperti memberi lahan atau membangun gedung pemerintah daerah.

Perda no 1 tahun 2014 memang tidak harus terkait dengan APBD. Ingat pemprov adalah pihak PEMBERI. Dia cukup diberikan kewenangan.

Pergub no 175 sudah mendudukkan diri sebagai PENERIMA dan Ahok tetap tidak mau memasukkan ini ke dalam kas negara? Ada apa?

Argumennya adalah dia menerima dalam bentuk barang jadi/proyek. Tidak ada uang yang mengalir. Apakah kita bisa periksa argumen ini? Tidak. Kita tidak punya cara untuk tahu. Kita harus percaya Ahok.

Yang paling mengganggu saya tentu penentuan proyek” apa yang dijadikan kompensasi pengembang itu. Semata keinginan Ahok.

Padahal semangat TPZ nya berbeda. Pengembanglah yang berinisiatif dan melakukan sesuatu untuk membuat kualitas tata ruang meningkat. Oleh karenanya diberikan TPZ bonus. Ahok tinggal melakukan appraisal. Dengan itu dia memberikan kompensasi berupa tambahan KLB. Ahok seharusnya pasif.

Kalau memang ada niat jualan KLB ya lakukanlah dengan benar. Terima uangnya untuk kemudian dibicarakan penggunaannya bersama DPRD. Tapi itu bukan semangat TPZ.

Tapi lepas dari plintiran semangat UU induknya, pergubnya sudah ada. Sekarang praktik itu perlu diawasi secara ketat. Transparansi untuk melaporkan kompensasi pengembang harus dilakukan. Kita tidak bisa cuma percaya kepada Ahok. Begitu.

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Mas Agus

Seorang kawan, seorang yang datang dari masa lalu, seorang yang di masa itu kami karib dan intim, sampai kemudian dimulainya pembangunan pembangkit listrik tenaga abang terlalu baik buatku, mengangsurkan pertanyaan ini: apa yang dibutuhkan kandidat gubernur DKI bila tampil di televisi?

Saya lama menjawab, meski sudah centang biru dua, sengaja mengulur waktu, supaya terkesan tak mudah dijangkau.
Mari kita mulai dari sini: untuk apa kandidat gubernur DKI Jakarta tampil di televisi?

Jawaban final adalah supaya seluruh masyarakat pemilih dapat mengakses seluruh informasi yang disampaikan tanpa blur, tanpa bias. Betul, seluruh masyarakat pemilih, dan seluruh informasi. Garis bawahi di situ, thank you, love you.

Maka penting bagi Najwa Shihab menjadi tuan rumah yang bijak, yang lebih banyak mendengar daripada berbicara, untuk memastikan seluruh informasi dapat diakses seluruh masyarakat pemilih tanpa menyelak. Penting bagi host untuk memastikan dia tak menelikung, tak menjebak, tak membawa agenda sendiri, tak memaksakan gagasannya, tak menunggangi konteks, dan bersedia berbagi panggung. Harus tahu kapan bicara, kapan diam, kapan mendengar. Pelajaran sejak masa kanak-kanak.

Sekarang giliran Mas Agus. Besok-besok Mas Anies, dan Koh Ahok. Kita harus berhenti menyalahkan jarum yang patah, tanpa mengurai benang yang kusut.

Kusutnya bermula di sini: kita telah dihalang-halangi untuk menyimak dengan seksama apa cita-cita mereka bila nanti memimpin Jakarta. Kita kehilangan momen penting mendengar langsung dari para kandidat mau di bawa ke mana Jakarta selanjutnya. Padahal kita seharusnya dikasih kesempatan mendengar mereka menjembrengkan gagasan-gagasannya, harapan-harapannya. Alih-alih mendengar host mendesak-desakkan pokok-pokok pikirannya hanya supaya ia terlihat lebih pintar.

Pada titik ini, Wimar Witoelar adalah kampiun, Muthia Kasim berikutnya, dan Rossiana Silalahi kiwari.

Tak berhenti di situ, centang-perenang ini diperburuk aneka komentar di sosial media. Mas Agus masih grogi, Mas Agus belum terbiasa, Mas Agus ganteng, Mas Agus bla-bla-bla seolah-olah Jakarta sedang mencari pemimpin yang tidak grogi. Seolah-olah kemacetan akan sirna karena artifisial itu. Seolah-olah toldalkot akan lancar jaya karena santun. Hidup kok gini amat sih.

Sudahlah begitu, ada yg tega membuatkan kultwit menafsir gestur Mas Agus, menafsir berapa kali dia minum, menafsir tatapannya. Selesai? Jangan sedih, yang bikin kultwit merasa dia telah benar. Rasanya ingin ditelan Bumi.

Tiap-tiap kandidat harus tampil di muka umum, untuk menggaransi gagasan-gagasannya akan terlaksana dengan baik. Kita tak memberi cek kosong. Pesan atas gagasan, memang, harus dideliveri sama bagusnya dengan gagasan itu sendiri. Mengasumsi ketiga kandidat ikut aktif dalam penyususunan visi misi dan rencana kerja, maka menjelaskannya ke publik sama mudahnya dengan membuka kaitan bra. Di kostan. Atau di apartemen. Atau di hotel transit. Atau di mana saja, whatever.

Karena itu, kegenitanmu mengenai ganteng dan lain sebagainya yang akhirnya bikin saya iri, please deh, tahan sejenak, jangan terlalu gittal (silakan tanya Kisbet artinya). Jakarta sedang memilih pemimpin, bukan memilih busa sabun. Kota hebat ini harus dipimpin oleh dia yang sama hebatnya, untuk masyarakatnya yang juga hebat dan tak merengek minta follback.

Jalan masih panjang, kita masih punya harapan bila nanti kandidat tampil lagi di televisi, harus dipastikan bahwa kita ingin mendapatkan informasi yang utuh dan tuntas. Dan di debat publik nanti, para kandidat adalah aktornya, bukan moderator. Panggung untuk moderator cukup di hati saya saja.

Percayalah, tiapkali Clinton tampil memberi pernyataan, yang paling serius menyimak adalah tim Trump, begitu sebaliknya. Bukan bikin kultwit. Ahelah…

Tuan Wahai

Manusia Gembira

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Surat Tardidi untuk Oum Awe

Menyenangkan mengetahui bahwa @awemany, sahabat saya, memulai percakapan tentang Pilkada di DKI dengan menelisik visi para kandidat. Ikhtiar yang bagus, merawat pohon-pohon pengetahuan, melalui tulisannya yang berjudul Menandingkan Visi Anies-Sandi dan Ahok Membangun Jakarta.

Kita harus belajar untuk berhenti saling-menyakiti. Mengingat Pilkada bukan memilih Malaikat. Saya sukacita mengasumsi judul yang dilansir Oum Awe dengan menempatkan Anies-Sandi sebagai sepasang, lalu Ahok sendirian, adalah kekurangan pengetikan saja.

Seperti halnya Oum Awe, saya pun percaya pilihan kata menunjukkan makna. Bilang i love you ketika dinner akan berbeda maknanya dibanding bilang i love you ketika mau orgasme. Yang satu jujur, yang satu otaknya sedang tak di situ.

Maka masalah utamanya ada pada beban pemaknaan: bagaimana menaruh makna kata pada sebuah kata? Apakah tiap-tiap kata berdiri sendiri, terlepas dari kalimat, yang membentuk konteks? Apakah teks boleh dilepas dari konteks?
Bra boleh dilepas, saya benar sampai di sini.

Apakah frasa etalase adalah etalase dalam pengertian awam, bahwa ia pajangan? Pada logika bahasa yang tertib, etalase di dalam visi Pak Ahok- Pak Djarot justru jauh dari makna awam. Di situ etalase adalah pigura, semacam benchmark, yang kota lain di Indonesia dapat menjadikannya sebagai tolok-ukur. Kiwari, Jakarta memang metropolitan. Kita tak bisa melarikan diri dari itu.

Maka etalase pada visi tersebut, konteksnya adalah menjadikan Jakarta sebagai barometer. Mengingat ia ibukota. Kita harus tak mengambil sebagian, menyembunyikan sebagian sisanya, hanya supaya seluruh argumentasi kita tampak benar.

Saya justru terkesima pada visi Mas Anies – Mas Sandi (saya kutip sepenuhnya): Jakarta kota maju dan beradab dengan seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan. Visi ini, dari sisi saya, seperti komika yang meyakin-yakinkan kita bahwa kontennya sangat lucu, hingga kita berbaik hati menyalah-nyalahkan diri-sendiri bahwa kitalah yang tak punya sense of humour.

Bila kita setuju konstruksi gagasan diwakili oleh kalimat, dan percaya bahwa pilihan kata menunjukkan makna, maka kita harus sepakat bahwa Mas Anies – Mas Sandi percaya seluruh masyarakat Jakarta belum merasakan keadilan dan kesejahteraan. Sebab mereka ingin seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan.

Setidaknya ada dua beban pemaknaan pada visi ini. Pertama, kalimat seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan adalah gebyah-uyah. Orang sangat kaya ada di Jakarta, dan saya ingin seperti mereka, siapa kita yang hendak mensejahterakan mereka?

Ke dua, Mas Anies – Mas Sandi sedang menyingkir dari polarisasi kaya-miskin yang faktual di Jakarta, lalu menempuh jalan nyaman dengan meletakkan kata seluruh di situ. Saya akan angkat jempol dua jari bila visi tersebut lebih berpihak, dan tak gebyah-uyah.

Di atas semua itu, sulit dimungkiri visi Pak Ahok – Pak Djarot dan visi Pak Anies – Pak Sandi nyaris tak memiliki pembeda. Semua ingin membangun Jakarta, semua ingin membangun manusianya, pada saat bersamaan semua tahu semua itu janji joni.

Mungkin saya yang terlalu berharap bahwa penantang haruslah datang dengan gagasan yang sama menantangnya. Jika ia datang dengan program yang sulit dibedakan, lalu kenapa meletakkan harapan di gerbang yang baru, sedangkan gerbang yang lama masih menyisakan harapan.

Begitulah, kata-kata manis, teks maupun konteks, sering-sering ditujukan untuk menyembunyikan maksud. Sampai di sini, saya manis.
Yang tidak setuju, angkat kaki.

Oum Awe sudah memulai, mengritisi visi dan misi dan program, alih-alih kita saling-menghardik. Layar sudah dikembangkan, jangan surut tuan dan puan.

Dan tentang surat tardidi, silakan tanya Kisbet artinya.

Tuan Wahai

Manusia Gembira

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Menandingkan Visi Anies-Sandi dan Ahok membangun Jakarta

Mengikuti jejak Ahok, Anies -Sandi telah menuliskan Visi mereka. Sebagai penonton yang tidak serta merta netral saya ingin komentar.

Berikut ini adalah Visi dan Misi Anies-Sandi yang saya screencapture dari berita detiknews.com

Analisa perbandingan Visi dan Misi ini berfokus pada pilihan kata yang mereka gunakan. Saya percaya bahwa dalam kata terikat makna. Dalam makna terpaut perhatian. Di sana kita akan temukan hati dan pikiran pembuatnya.

Saya telah melakukannya untuk Ahok diblog ini.
http://wp.me/p1peJz-4C

Dari segi elaborasi kota, Anies-Sandi memilih kata maju dan beradab. Ini adalah terminologi yang bisa dikenakan baik pada hal-hal yang tampak (tangible) atau manusianya. Lalu mereka menuliskan visi tentang manusia yg mendiami kota itu. Beroleh keadilan dan kesejahteraan.

Dari visi ini jelas mereka mengambil posisi untuk membangun manusianya. Sesuatu yg beda dari Ahok. Yang melihat kota sebagai etalase. Entah apa yang hendak dijualnya.

Lawannya akan bilang ini cuma jargon. Apalagi ada Anies yg memang dikenal sebagai konseptor. Ya. Tapi visi adalah bagian penting dari race ini. Dari Visi kita memahami apa yang dianggap penting oleh para kandidat. Kita bisa mengidentifikasi jalan apa yang akan mereka tempuh.

Sungguhpun demikian, dalam kampanye nanti, orang harus tajam untuk melihat. Apakah visi ini memang jadi tumpuan dalam melakukan tugas atau sekedar lips services. Challenge dengan baik.

Saya senang dengan cara Anies-Sandi meletakkan kepemimpinan. Pada misi. Bukan pada visi seperti narsisnya Ahok. Mereka menyadaro kepemimpinan adalah tools atau peran dalam mewujudkan visi. Bukan visi itu sendiri.

Anies dan Sandi menggunakan kata kunci humanis dan mengayomi. Perhatikan perbedaan cara pandang tentang kepemimpinan antara Ahok dan Anies-Sandi.

Ahok menandai kepemimpinannya sebagai bersih, transparan dan profesional. Input oriented. Artinya fokus dalam kepemimpinan itu adalah dirinya sebagai pemimpin. Typical megalomania. Dia yg harus dipentingkan.

Anies-Sandi mengucapkan kepempinannya sebagai humanis (input/proses) dan mengayomi (proses/output). Tentu saja ini adalah cara pandang yang lebih holistik dalam melihat kepemimpinan. Mereka melihat kepemimpinan sebagai kesatuan input-proses-output. Good.

Dari misi ini yang nanti bisa dibikin twitwar adalah perbedaan fokus tentang reformasi birokrasi. Ahok melihat korupsi sebagai sumber masalah di birokrasi pemprov. Anies-Sandi lebih melihat persoalannya ada pada tidak efektifnya birokrasi berjalan. Keduanya punya poin bagus. Saya akan makan kacang di pinggiran dengan nikmat kalau kedua kandidat ini bisa beradu tentang perbedaan prioritas ini. Seru! Seru!

Untuk rujukan, berikut ini adalah misi yang dituliskan Ahok.

Elaborasi Ahok tentang kebutuhan dasar warga dalam misinya lebih bagus dari yang dipunyai Anies-Sandi. Dia mulai dengan perbaikan sumberdaya manusia (kesehatan & pendidikan untuk kemudian batas layak (hunian & pangan). Dia lanjutkan dengan mobilitas (transportasi) baru yg terakhir lapangan kerja dan kesempatan untuk hidup lebih baik. Secara struktur ini lebih baik karena lengkap dan berada dalam satu kesatuan.

Anies-Sandi juga bicara itu. Namun mereka bicara itu di dua tempat yang terpisah. Artinya fokusnya bisa berbeda.

Tempat pertama ada di misi pertama. Misi untuk membangun manusia Jakarta yang berdaya. Mereka mengelaborasi itu sebagai stabilitas /keterjangkauan harga pangan, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan. Menarik untuk melihat adanya kebudayaan dalam membangun manusia Jakarta yang berdaya di sini.

Namun, fokus pada upaya pemberdayaan itu, membuat mereka luput untuk meletakkan hunian yang layak sebagai fokus. Nobody perfect.

Tempat yang kedua ada di misi ke tiga, membangun kesejahteraan. Di sini terdapat upaya untuk menyediakan lapangan kerja dan mobilitas warga. Anies-Sandi menggunakan 2 dari 3 misinya untuk membangun manusia.

Untuk fair-nya Ahok juga menuliskan 1 butir misi lagi yang terkait dengan pembangunan manusia. Menjadikan 2 dari 5 misinya memang tentang pembangunan manusia.

Namun saya tidak suka dengan isinya. Pada butir ke-4 dia bicara tentang pembangunan sumberdaya manusia sebagai kapital. Yang digunakan untuk bersaing dengan kompetisi global. Dia tidak bicara tentang pembangunan manusia agar makmur, sejahtera atau berkeadilan. Jadi jelas sekali ya visinya tentang manusia Jakarta.

Tentang membangun kota, ada perbedaan tajam pada penggunaan katanya. Ahok menuliskannya dalam dua butir misi. Dia menggunakan kata tehnologi dan infrastruktur kelas dunia. Di lain sisi, Anies-Sandi memberikan tekanan pada daya dukung lingkungan dan sosial. Dari sini juga dapat disimpulkan arah dan cara berfikirnya. Ahok bicara etalase/peragaan. Anies-Sandi bicara kehidupan.

Baiklah. Pada akhirnya saya harus bilang, visi bukan persoalan mana yang benar atau salah. Ini persoalan visi mana yang kita anggap paling sesuai bagi diri kita. Berita bagusnya, kedua kandidat ini memang memiliki visi yang cukup berbeda. Perbedaan inilah yang perlu dipertajam dalam kampanye agar kita bisa memilih yang terbaik bagi kita. Tabik.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Bagi Ahok, anda dan saya cuma barang pameran. Mati kita.

​Ada postingan lewat di timeline saya tentang visi dan misi Ahok-Djarot pada pilkada 2017. Sumbernya adalah Ahok.org yang kita tahu merupakan salah satu website yang selama ini mengkampanyekan Ahok.

Visi yang dituliskan oleh Ahok dan timnya ini, dengan jujur menggambarkan apa yang ada dibenaknya.

Dalam dokumen sepenting ini, pilihan bahasa, susunan kalimat dan nuansa yang muncul adalah perwujudan dari fokus atau perhatian sang calon. Bahkan makna-makna yang tersembunyi dalam dokumen itu bisa jadi merupakan pesan yang subtle. Kita harus bedah itu untuk menunjukkan siapa sesungguhnya sang calon.

Mari kita periksa. Dia mau menjadikan
jakarta sebagai etalase. Tertulis secara explisit. Jelas ya penggunaan bahasanya.

Menurut KBBI:
etalase/eta·la·se /étalase/tempat memamerkan barang-barang yang dijual (biasanya di bagian depan toko)

Kita dan apa yang ada di kota ini, bagi Ahok cuma barang pameran. Sesuatu untuk diperagakan. Jadi tuduhan saya tentang pembangunan foto” itu valid. Saat dia mewujudkan mimpinya, yang ada pertama dibenaknya adalah membangun kota secara tangible. Bukan membangun manusia.

Dan saya tidak perlu jadi cynic untuk mengatakan etalase itu tidak berorientasi pada barang/orang yg di dalam. Tapi “pembeli”.

Siapapun bisa berakrobat dengan cara apapun, tapi pilihan kata itu memperjelas fokus attensi Ahok. Jangan-jangan bukan pada kota dan isinya.

Mungkin Ahok mau bikin Jakarta jadi etalase untuk memikat orang di luar Jakarta memilih dia jadi presiden. Who knows?

Kemudian, liat urutan fokusnya. Di situ tertulis, modern, rapi dan manusiawi. Sepenuhnya mendukung pemikiran awal. Membangun kota sebagai bahan untuk dipamerkan.

Manusiawi itu diletakkan pada urutan terakhir. Kini anda tahu bahwa semua penggusuran yang dilakukan memang tidak dimaksudkan untuk membuat yang digusur sejahtera. Itu omong kosong. Dia hanya mau modern dan tertata rapi. Pajangan.

Ahok tidak secara spontan berfikir tentang kota sebagai tempat kediaman yang harusnya dibuat aman, nyaman dan tertib. Atau kota sebagai tumpuan untuk memajukan dan mengembangkan warga kota. Karena manusia tidak ada di pusat pikirannya. Modern dan tertata rapi. Etalase.

Penyebutan pembangunan manusianya jelas normatif. Apa itu manusia seutuhnya? Dia tidak merasa perlu untuk mengelaborasi dengan detail. Bagi dia itu tidak penting untuk dijelaskan dalam visi itu.

Akan banyak orang yang menggunakan argumen proposisi dalam matematika untuk menyanggah saya. A dan B itu setara dengan B dan A. Namun sayangnya ini bukan matematika.

Dalam berbahasa ada urutan fokus. Sungguhpun kita mencoba untuk bilang, kita mau semuanya. Dengan demikian penggunaan kata “dan” tidak serta merta berarti setara.

Saat saya bilang si A adalah seorang gadis cantik dan pintar akan berbeda dengan saat orang lain bilang si A pintar dan cantik. Bedanya bukan pada si A. Bedanya ada pada apa yang saya dan orang lain itu pentingkan dalam menilai kelebihan seorang perempuan.

Karenanya memilih urutan menjadi penting dalam Visi. Saya tahu Ahok telah mengurutkan sesuai dengan apa yang dia ingin lihat. Pendukung yang merasa prioritas itu tidak tepatlah yang mencoba untuk “meluruskannya”.

Saya tidak paham apa yang dilakukan oleh pendukung serupa itu. Tidakkah mereka sedang menipu dirinya sendiri?

Yang sangat narsis adalah visinya tentang Jakarta itu melibatkan dirinya. Pilihan kata bersih, transparan dan profesional menunjukkan ego besarnya. Mudah untuk dilihat huruf awal dari 3 kata itu adalah b,t,p atau inisial namanya BTP.

Dia bisa memilih aspek kepemimpinan yang lebih diperlukan untuk Jakarta. Atau yang lebih sesuai dengan management theory. Tidak.

Dia lebih suka ada initial namanya dalam visinya tentang Jakarta.

Baginya kepemimpinan, atau dalam hal ini adalah dia, merupakan bagian yang penting dari visi itu. Narsis to the max.

Saya ingatkan kepemimpinan itu adalah tools untuk mencapai visi. Tidak seharusnya ada dalam visi. Debatable. Namun meletakkan initial namanya dalam visi itu memang hanya dilakukan oleh seorang megalomania.

Visi seperti ini jelas merupakan titik lemah yang mudah diserang. Kalau cerdas, tim kampanye Anies atau Agus harus menggunakan ini sebagai pembeda nyata. Karena banyak diantara kita yang percaya, membangun kota adalah membangun manusia. Dalam setiap hal yang dilakukan, manusia harus selalu ada di pikiran terdepan. Saya mau pemimpin seperti itu.

Jadi jelas ya siapa Ahok dan apa yang dipikirkannya tentang pembangunan. Saya tidak korting sedikitpun.

Sekarang terserah anda kalo mau jadi barang pameran. Saya sih ogah.

Posted in Uncategorized | 7 Comments

Menjadi Underdog. Mengalahkan Ahok.

Hasil bacaan awal tentang Agus-Sylvi dari Political Wave menunjukkan impresi yang positip. Momentum ini harus digunakan baik.

Mereka akan segera bertarung sebagai underdog melawan petahana yang nampak perkasa dengan” hasil kerjanya”.

Maka bertarunglah seperti underdog dengan sebenar-benarnya. Dan sehormat-hormatnya. Ini memiliki beberapa prinsip dasar yang ingin saya diskusikan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya David and Goliath menerangkan ada 3 perkara yang penting dicermati saat mengambil posisi sebagai underdog.

1. Mencari manfaat dari kelemahan dan mencari kerugian dalam kekuatan untuk mengubah medan pertandingan.
2. Mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
3. Memahami keterbatasan kekuatan lawan.

Mari kita mulai dengan assessment terhadap pasangan Agus-Sylvi. Mencari PERSEPSI kelemahan mereka di mata publik.

Kita berangkat dari yang obvious. Agus tidak akan ada di sana kalau bukan anak SBY. Ini adalah bentuk dinasti politik yang rentan akan tuduhan nepotisme, kolusi dan korupsi.

Agus juga dianggap tidak punya pengalaman untuk memimpin kota sebesar Jakarta. Pengalaman militernya belum membuat dia memiliki cukup leadership. Yang saya maksud di sini adalah wibawa untuk menyatukan pendapat-pendapat yang berbeda.

Pilihan pasangannya, Silvy sebenarnya bisa menutup kekurangan Agus tentang pengalaman. Sebagai birokrat karir di pemprov DKI, Silvy seharusnya tahu betul isi perut Jakarta. Lebih dari semua calon.

Namun, kita bicara tentang skill, knowledge dan leadership yang dibutuhkan untuk membuat keputusan untuk kepentingan publik. Agus bisa lemah di sini.

Kelemahan yang ketiga tentunya adalah popularitas dan kedalaman pengenalan terhadap Agus-Sylvi. Mereka memang tiba-tiba saja ada di situ. Masih banyak yang berkomentar ” Agus who?” Yang kemudian dijawab sendiri “Oh, Agus You don’t know”. Fair.

Tiga kelemahan ini membawa persepsi Agus bukan lawan sebanding Ahok. Dan mereka bisa jadi benar.

Sementara, kekuatan Ahok ada pada tiga perkara juga.

Kekuatan yang pertama, saya kira ada pada kredibilitasnya. Masyarakat percaya pada kesungguhan hatinya. Dia dianggap anti-thesis dari politisi yang bekerja hanya untuk kepentingan kelompoknya. Sudah diperlihatkan data tentang perilaku opportunistnya, toh masyarakat bergeming. Saya membeberkan fakta 20 kebohongan Ahok selama 2 tahun jadi gubernur tapi tidak ada resonansinya. Sebegitu kuat rasa percaya masyarakat.

Kekuatan yang pertama ditunjang oleh kekuatan yang kedua yaitu keberaniannya melawan arus besar politik. Dia berani berseberangan dengan partai besar. Dia memusuhi semua orang. Dan yang terakhir, dia berani untuk melakukan tindakan yang beresiko, seperti penggusuran. Saya kira, berani memang nama tengahnya.

Kekuatan yang ketiga adalah hasil kerja yang nyata bisa terlihat. Tidak ada yang peduli tentang kegagalannya memenuhi APBD. Tidak juga tentang macet dan banjir yang masih selalu jadi persoalan. Atau bahkan korupsi yang belum berhenti.

Pengerukan kali, betonisasi sungai dan pasukan oranye telah cukup bagi publik untuk melihat kesuksesannya. Tentu karena ada fotonya di mana-mana.

Jalan layang yg dibangun di beberapa tempat, pengaspalan atau kadang penyemenan membawa kesan yang dalam bagi warga. Pembangunannya nyata. Uangnya tidak dikorupsi lagi.

Belum lagi soal beli bis atau membangun RSUD dan RPTRA. Foto-fotonya ada. Anda ngga bisa ingkar dan itulah kekuatannya.

Kepercayaan publik, keberanian dan hasil kerja nyata ini satu nafas. Semua memusat pada suatu sosok manusia yang dianggap superman. Ahok.

Bagaimana cara melawannya?

First of all, ini harus disadari sebagai pekerjaan yang tidak mudah. Bagai David melawan Goliath. Kalau anda ngga pernah dengar kisahnya, anda pasti bertaruh untuk Goliath.

Kaidah pertama adalah mengubah cara pandang terhadap pertempuran. Melakukan redefinisi terhadap medan pertandingan. Ingatkan kembali apa makna pemilihan gubernur.

Memilih gubernur bukan sekedar memilih orang. Namun esensinya adalah memilih JALAN yang kita tempuh untuk menciptakan kota ideal.

Ahok adalah sopir. Sebagai sopir dia punya kualitas yang diperlukan untuk membawa penumpang. Super.

Berkompetisi untuk memilih sopir, Agus dan juga Anies sudah tertinggal jauh. Ngga ada yang punya pengalaman jadi sopir juga.

Tapi bicara tentang arah pembangunan Jakarta, Ahok bisa punya masalah banyak. Ahok tidak punya visi tentang membangun manusia. Solusinya selalu short-cut. Langkah pintas. Terlihat bagus karena ada fotonya. Tapi dibalik foto bagus itu, tidak ada sustainabilty. DEBATABLE mungkin. Tapi akan mengundang Ahok untuk masuk ke medan pertandingan yang berbeda.

Kalau jualannya pinter, ke-superman-an (saya tidak tahu apakah ini bentuk baku) Ahok bisa menjadi titik lemah.

Sebagai sopir dia bisa menjual dirinya sendiri. Kredibilitas, keberanian dan pengalaman kerja. Namun saat dia diajak untuk membedah visinya tentang arah pembangunan Jakarta, orang bisa jadi mikir. Yang ngga setuju dengan visi Ahok bisa berubah pikiran.

Kekuatan Ahok tidak lagi bisa digunakan saat kita bicara tentang ARAH pembangunan Jakarta. Medan pertandingannya sudah beda. Kelemahan Agus bisa jadi irrelevant.

Poin yang kedua adalah tentang desirabilty difficulties. Jika anda baca bukunya, ini tentang mengubah handicap/ halangan menjadi sesuatu hal yang positip dalam memenangkan pertandingan.

Contohnya, seorang petinju kidal akan memiliki tangan kanan yang lebih kuat dari tangan kiri orang yang bukan kidal. Hal ini terjadi karena dia harus melatih tangan kanannya untuk mengikuti gaya bertinju lawan”nya yang biasanya bertangan kanan.

Apa kelemahan Agus yang bisa dijadikan titik tumpu untuk memenangkan race ini? Menurut saya, share of awareness beserta depthnya.

Share of awareness Agus kalah jauh dari Ahok. Jadi, tim kampanye Agus harus putar otak untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari Ahok. Yang pinter, ya.

Bikin sesuatu seperti Sohib Agus itu hanya akan jadi lelucon. Udah nyontek, ngga substantial juga. Suram.

Ada hal yang penting untuk dicatat tentang dukungan terhadap Ahok. Dukungan tanpa merasa perlu terlibat. Percayakan semuanya pada Ahok. Kasih KTP saja. Yakin deh Jakarta bakal beres.

Saat kita membangun manusia, proses untuk melibatkan orang ini menjadi kritikal. Kampanyenya harus menjadi dua arah. Mendengar jadi atribut yang penting. Kemampuan yang Ahok ngga punya. Harusnya tim Agus bisa memanfaatkan ini.

Bagian yang terakhir yang dibahas Malcolm itu memiliki banyak sisi. Yang relevan dengan diskusi kita adalah tentang memahami batas kekuatan lawan.

Seorang Goliath cenderung untuk memaksakan kekuatannya di luar batas. Pada saat tenaganya habis, dia akan mudah dijatuhkan.

Ambil contoh sederhana tentang pembersihan kali. Ahok dan pendukungnya sangat yakin akan kekuatan dari hasil kerja ini. Akibatnya overkill. Diramein di mana-mana. Terus menerus.

Mereka lupa. Hal yang sudah terlalu sering dibicarakan akan segera basi. Dampak memperlihatkan kali bersih beberapa bulan yang lalu mungkin sudah akan basi bulan februari tahun depan. Saat hari pemilihan orang bisa punya fokus berbeda.

Tim kampanye Agus harus cermat memahami batas-batas ini. Untuk kemudian melakukan tindakan cerdas.

Saya sih percaya pertarungan masih panjang. Ahok bisa dikalahkan.

Posted in Uncategorized | 2 Comments