Membangkitkan pengalaman berbangsa sebagai penuntun menuju terang. Bagian 2

Persoalan utama bangsa kita hari ini adalah persoalan ekonomi. Dollar telah menembus 14000 rupiah. Intervensi BI memang membuatnya tertahan, namun fundamental ekonomi kita tetap dalam situasi yang harus diwaspadai.

Persoalan ekonomi ini merupakan persoalan yang terstruktur dalam masyarakatnya karena alokasi sumber daya yang tidak adil. Alokasi sumberdaya yang tidak sejalan dengan semangat kebangsaan. Tentu saja ini bukan salah pemerintah hari ini. Namun suatu proses yang telah berakar sejak orde baru. Dibutuhkan suatu dorongan politik agar kita bisa kembali pada hakikat kemerdekaan. Kesempatan yang setara bagi semua anak bangsa. Bukan pemanjaan pada pengusaha-pengusaha kaya melalui konsensi atau kuota-kuota impor. Mari ini kita benahi bersama.

Ketimpangan ekonomi hari ini dijembatani melalui program-program bantuan pada rakyat yang miskin. Pemerintah memang menjalankan berbagai program bantuan sosial. Namun belum terlihat upaya penanggulangan struktur kemiskinan. Ketimpangan alokasi sumberdaya.

Cara-cara pemerintah dalam mengakomodasi kepentingan masyarakat adat, misalnya, tidak dijalankan dengan efektif. Akibatnya, sebagian dari masyarakat itu memperoleh limpahan dana, sementara yang lain tidak beroleh manfaat. Bukan kesejahteraan yang diperoleh melainkan perpecahan sosial. Ini adalah kasus-kasus yang sering dijumpai pada konsensi-konsensi tambang/perkebunan yang melibatkan tanah-tanah adat.

Pemerintah terlibat dalam banyak proses penggusuran demi pembangunan infrastruktur. Ini makin memperbesar ketimpangan alokasi sumberdaya. Mereka yang diuntungkan oleh infrastruktur itu adalah mereka yang berbeda dengan masyarakat yang harus berkorban. Yang makmur makin makmur. Yang miskin akan menjadi lebih miskin.

Pola-pola orde baru ini tidak boleh kita lanjutkan. Pembangunan infrastruktur harus berpusat pada mereka yang menyediakan diri mereka untuk berkorban. Mereka yang mendapat hasil pertama saat infrastruktur itu berfungsi. Dengan demikian, infrastruktur yang harus kita dukung adalah sarana-sarana kesehatan, pendidikan, energi dan transportasi lokal. Kita jadikan pengalaman kebangsaan adalah pengalaman menjadikan ketimpangan menurun melalui penguatan sumberdaya lokal.

Selain persoalan alokasi sumberdaya kita dihadapkan oleh persoalan lapangan kerja. Setiap tahunnya sekitar 4 juta orang masuk ke angkatan kerja. Kita harus menciptakan banyak lapangan kerja untuk menyerap mereka. Sejauh ini pengangguran terbuka berkisar pada angka 5.5 %. Sepertinya tidak menakutkan. Namun jika dilihat detilnya, dari orang-orang yang dianggap bekerja, 7.5% nya dikategorikan sebagai setengah menganggur. Bahkan 20% nya adalah pekerja paruh waktu. Apa artinya?

Kita tidak mampu menciptakan pekerjaan untuk 19.25% kapasitas angkatan kerja (5.5% + setengah dari 20%+ setengah 7.5%). Mereka tidak bisa disalurkan pada sektor-sektor produktif. Pada akhirnya inilah yang berpotensi menjadi ekses-ekses tindak kriminal berbasis paksaan ekonomi.

Resep kapitalisme untuk menciptakan lapangan kerja adalah dengan mengundang modal asing. Lupa jika masuknya modal asing akan menambah senjangnya alokasi sumberdaya. Memperbesar lingkaran setan kemiskinan. Kita harus mampu menciptakan lapangan kerja kita sendiri. Mendorong lingkaran-lingkaran ekonomi ditingkat lokal. Penciptaan pengusaha-pengusaha kecil dan koperasi melalui bantuan inkubasi bisnis dan akses pada pembiayaan. Perlindungan pada pasar-pasar tradisional. Tidak ada jalan lain.

Dengan perkembangan tehnologi digital, akses terhadap lapangan pekerjaan bisa dioptimalkan. Pemeliharaan terhadap potensi-potensi produksi untuk dipasarkan secara online. Serta akses terhadap transaksi jasa. Namun demikian, pemerintah tidak boleh lalai dalam melindungi hak-hak konsumen dan pekerja. Banyak keluhan akan tidak terlindunginya hak-hak mitra dalam transportasi on-line misalnya. Tentu ini membutuhkan perhatian. Apa manfaat lapangan kerja dibuka tapi pekerjanya tidak terlindungi? Rasa kebangsaan kita harus ada. Keadilan dan perlindungan.

Persoalan ekonomi berikutnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Ini harus dirasakan bukan sekedar upaya menyantuni tapi adalah tanggung jawab kebangsaan. Kita, dengan pemerintah sebagai lokomotif, bahu membahu untuk memastikan semua penduduk Indonesia bisa memenuhi kebutuhan yang minimum. Berita kelaparan di Asmat, Papua, awal Januari ini sangat menyentuh kita. Kita harus menjaga agar ini tidak terulang lagi di masa depan.

Memahami persoalan kemiskinan atau ekonomi dari strukturnya, memastikan kita melihat pada mereka-mereka yang dimiskinkan oleh struktur itu. Dalam struktur ekonomi yang sangat patriakis, jelas perempuan adalah golongan yang dimiskinkan. Golongan yang tidak diberikan kesempatan yang sama untuk maju oleh institusi-institusi sosial di mana ia berada. Perempuan adalah proletarnya kaum proletar. Perempuan mengalami deprivasi yang menetap sepanjang sejarahnya. Semangat kebangsaan kita menolak itu. Semangat kebangsaan kita menginginkan jalinan sosial dalam kesetaraan. Pembangunan harus berkeadilan pada perempuan. Demikian amanat kebangsaan kita.

Selain persoalan ekonomi kita masih punya sederet persoalan hukum dan keadilan. Kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak dituntaskan. Kasus-kasus persekusi ormas atau kelopmpok orang. Kasus-kasus yang melibatkan arogansi kekuasaan. Semuanya adalah betuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebangsaan. Sebagai bangsa yang lahir untuk melawan penindasan, maka arogansi kekuasaan adalah bentuk pengkhianatan terbesar. Jauhkan diri kita dari sana.

Akhir-akhir ini kita didera oleh masuknya narkoba dalam jumlah ribuan ton. Ini adalah bentuk pelemahan bangsa dan penghancuran ekonomi masyarakat. Pengalihan sumberdaya produktif menjadi konsumsi yang berdampak buruk. Tidak hanya pada pengguna namun juga pada masyarakat secara keseluruhan.

Narkoba adalah jalan pintas untuk menggapai mimpi dan harapan yang makin sulit terwujud. Karenanya banyak beredar pada lingkungan miskin kota. Menyadari itu, mengatasi narkoba adalah melihat kembali pada ingatan kebangsaan kita. Menciptakan harapan pada anak-anak bangsa. Sisi kriminal dalam peredarannya tentu adalah masalah apparat kepolisian dan hukum. Namun penanggulangannya melibatkan keinginan untuk membangun masyarakat sebagai tempat bersama. Saling menjaga.

Saya sudah jabarkan persoalan-persoalan mendasar bangsa ini. Saya sudah rumuskan pendekatan untuk mengatasinya. Melalui lima kesadaran penting:

  • Keinginan untuk memajukan diri
  • Keinginan untuk memperoleh perlindungan dan keadilan.
  • Menjalin ikatan sosial berdasarkan azas kesetaraan.
  • Pengakuan atas keragaman dan bukan peleburan identitas
  • intelektualitas sebagai penjaga kebangsaan.

Ini adalah manifesto politik saya. Pada waktunya nanti, inilah yang akan saya perjuangkan melalui saluran-saluran politik yang ada. Ada aamiin?

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangkitkan pengalaman berbangsa sebagai penuntun menuju terang. Bagian 1.

Sejarah Indonesia adalah sejarah yang kaya akan pelajaran berharga sebagai bangsa. Kita bangkit menuju pembebasan yang gemilang di tahun 1945, karena kita telah melalui berbagai pengalaman kebangsaan. KeIndonesiaan.

Hari-hari ini, kita menghadapi berbagai tantangan sebagai bangsa. Kita perlu membangkitkan pengalaman-pengalaman itu, agar terang jalan kita. Jalan menuju Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera. Pembangunan berkeadilan.

Tentu saja tidak mungkin untuk menilik seluruh pengalaman kebangsaan itu dalam waktu sesingkat ini. Dalam kesempatan ini, kita akan bicara tentang beberapa momen-momen sejarah dan arti pentingnya dalam pengalaman berbangsa. Saripati dari momen-momen itulah yang akan terus kita bangkitkan. Kita akan terus gemakan untuk menjadi landasan dalam berbagai aspek pembangunan.

Gerakan kebangsaan Indonesia lahir di awal abad ke 20. Tentunya ini dipengaruhi oleh berbagai gerakan kebangsaan di banyak tempat di Asia. Seperti di Mesir oleh Arabi Pasha, di Turki oleh Mustafa Kemal Pasha, di Philipina oleh Joze Rizal dan sebagainya. Kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1904 juga disebut sebagai faktor yang membawa kepercayaan diri bangsa-bangsa di Asia. Matahari timur telah terbit.

Organisasi modern yang pertama dikenal dan tercatat rapi dalam sejarah adalah Boedi Oetomo yang lahir 1908. Ada beberapa sumber yang menyatakan Sarekat Dagang Islam lahir tahun 1905, namun ini masih jadi kontroversi. Kita tidak akan punya suatu titik pasti kapan perasaan kebangsaan atau nasionalisme muncul, namun kita tahu, untuk Indonesia, ia tumbuh pada tahun-tahun itu. Dekade pertama di abad 20. Kita memperingati tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional untuk mengenang itu. Ada sesuatu energi yang sedang terbangun. Energi besar berupa kesadaran berbangsa. Apa artinya?

Bangsa kita tidak lahir dari kesamaan suku. Bangsa kita tidak lahir dari kesamaan ras. Bangsa kita tidak lahir dari kesamaan agama. Bangsa kita lahir dari kesamaan nasib. Dari kesamaan penderitaan sebagai bangsa terjajah. Dari kesamaan rasa tertindas yang jauh dari keadilan.

Kesamaan nasib sebagai bangsa terjajah itulah yang telah memberi kita identitas. Dengan demikian nasionalisme atau rasa kebangsaan harus selalu dibangun untuk memperbaiki nasib. Kebangsaan harus diperkuat untuk cita-cita kemakmuran. Kemakmuran yang tercipta jika masyarakatnya terdidik dan cerdas. Kebangsaan harus mendorong terciptanya perlindungan dan keadilan.

Boedi Oetomo, sungguhpun sering disebut elitis dan hanya memiliki ruang lingkup terbatas, memahami betul hakikat kebangsaan itu. Mereka mengambil jalan perbaikan nasib bangsa melalui sektor pendidikan. Pembentukan intelektual-intelektual muda. Mereka memenuhi pikiran orang-orang muda ini dengan pengetahuan dan visi untuk memajukan bangsa. Orang-orang muda yang kelak menjadi tokoh bangsa.

Cara yang berbeda dan tentu saja saling melengkapi ditempuh oleh H. Samanhudi. Pendidikan adalah gerakan jangka panjang. Tapi, rakyat yang lapar harus diberi jalan untuk menjadi lebih sejahtera. Peningkatan kemampuan ekonomi merupakan hal mendesak yang tidak bisa ditunda. Lahirlah Sarekat Dagang Islam pada tahun 1911 yang kelak akan bersalin rupa menjadi Sarikat Islam pada tahun 1912. Ini adalah gerakan kebangsaan berbasis ekonomi rakyat.

Kerakyatan yang dicita-citakan oleh Sarikat Islam adalah kemajuan ekonomi berdasarkan ikatan kebangsaan. Di sini kita lihat jejak kerakyatan bukan barang baru dalam politik Islam. Sejarah memperlihatkan politik Islam Indonesia pada awalnya tidak dimaksudkan untuk bersifat ekslusif. Dengan demikian tidak ada perlunya mencurigai kekuatan Islam di Indonesia.

Jika ada bagian dari umat Islam yg mencoba untuk eksklusif, akan ada bagian lain yang akan mengoreksi. Jika kita ingat kelahiran NU pada tahun 1926, di situ ada dorongan perlawanan terhadap sifat-sifat fundamentalis. Ini harusnya bisa menentramkan kaum minoritas.

Momen perjalanan kebangsaan yang penting lagi, tentu saja Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Sebelum Soempah Pemoeda, sebenarnya frase Indonesia telah banyak digunakan sebagai payung gerakan sosial politik. Partai Komunis Indonesia berdiri tahun 1920, tahun 1925 Indische Vereeniging, suatu perkumpulan mahasiswa di Belanda, mengubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia, Partai Syarikat Islam Indonesia terbentuk tahun 1926, Partai Nasionalis Indonesia berdiri pada tahun 1927. Banyak. Namun Soempah Pemoeda memiliki arti lebih dari sekedar menegaskan identitas Indonesia. Ini juga momen yang menegaskan pengakuan atas keragaman. Ini adalah momen integrasi gerakan-gerakan dari identitas-identitas sosial yang berbeda. Menjadi Indonesia tidak harus meghilangkan jati diri atau akar-akar identitas asal. Kita tetap bisa menjadi Jawa dan Indonesia. Kita tetap bisa menjadi Islam dan Indonesia. Kita Indonesia.

Tahun 1945 tentu adalah puncak momen kebangsaan. Karena, di mata sejarah, tahun itulah bangsa kita dicatat kelahirannya. Namun, jangan hanya melihat pada tanggal 17 Agustus 1945. Kita harus melihat pada apa-apa yang terjadi pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Sembilan, Panitia tujuh dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Dalam rapat-rapat itu dimulailah tradisi intelektual dalam berpolitik. Dalam rapat yang mengumpulkan segenap tokoh-tokoh bangsa, mereka berdebat untuk menentukan dasar-dasar negara kita. Di sinilah K.H Wahid Hasyim, tokoh kebanggaan NU, menanam akar kebangsaan pada umat Islam di Indonesia. Beliaulah yang berperan besar dalam merumuskan kembali Sila pertama menjadi bentuknya yang sekarang. Di sana terdapat visi Islam Indonesia yang inklusif. Di situlah komitmen terhadap kebangsaan diperlihatkan secara nyata.

Pemilu tahun 1955 disebut sebagai pemilu yang paling demokratis selama ini. Ini adalah bentuk terbaik dari demokrasi kita. Saat gagasan atau ideologi dipadukan secara baik dengan kekuatan massa. Pemilu adalah ajang pendidikan politik di mana gagasan diadu. Semangat untuk maju dibakar. Identitas dirayakan. Saat itu tidak ada yang takut untuk berbeda. Piihan partai dengan identitas agama, suku, golongan tidak menjadi masalah. Ada Partai Katolik, ada Gerakan Pilihan Sunda, ada Partai Buruh, bahkan ada “Partai” R.Soedjono Prawirisoedarso yang berjuang untuk dirinya. Dapat 1 kursi di parlemen.

Semua merasa aman dan nyaman dalam naungan kebangsaan. Ini adalah Indonesia yang kita rindukan.

Tentu saja sejarah kita tidak selalu indah. Pada masa setelahnya kita mendapati kebangsaan kita meniti jalan lain. Di masa Orde Baru Persatuan yang dimaknai sebagai penyeragaman. Identitas akar dipaksa untuk melebur menjadi Indonesia. Orang disuruh ganti nama agar jadi Indonesia. Partai dilarang untuk membawa identitas SARA. Ini adalah kekeliruan dalam memaknai kebangsaan. Kekeliruan yang menetap selama 32 tahun.

Dari telaah ini mari kita bangkitkan pengalaman kebangsaan itu di hati dan pikiran kita. Mari kita hadirkan kembali unsur-unsur yang mengikat kita sebagai bangsa.

  • Keinginan untuk memajukan diri. Memperbaiki nasib. Dari bangsa yang pariah kita harus bangkit menjadi bangsa yang mulia.
  • Keinginan untuk memperoleh perlindungan dan keadilan. Jangan biarkan kita menindas bangsa kita sendiri.
  • Jalinan sosial berdasar azas kesetaraan.
  • Pengakuan atas keragaman. Bukan peleburan identitas.
  • Intelektualitas sebagai penjaga kebangsaan

Mari kita bangkitkan pengalaman kebangsaan ini untuk mengatasi masalah-masalah bangsa hari ini. Mari kita cari solusinya dalam akar kebangsaan kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fanatisme terhadap Jokowi. Terbuat dari apa sih?

Kemarin di RL ada yang bertanya pada saya. Kenapa sih masih buanyak orang yang suka pada Jokowi. Padahal banyak fakta yang diungkap di publik tentang kinerja rezim Jokowi. B aja. Kok bisa sefanatik itu?

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Saat aspek rasional tidak bisa digunakan tentu kita harus melihat faktor emosional dan simbolisnya. Bagaimanapun juga kita tahu bahwa fanatisme itu hanya bisa dibangun melalui konten emosional dan simbol.

Saya melihat Jokowi ini dimaknai pendukungnya sebagai orang yang baik. Orang yg bersungguh-sungguh ingin membangun. Di mana kebaikan dan niat baik itu justru menjadikan blio korban dari politisi-politisi busuk.

Dengan pemaknaan seperti ini ya wajar saja jika orang tidak terlalu mementingkan perdebatan kinerja. Cukup diberi umpan satu kata saja, semua pertanyaan tentang kinerja sudah terjawab. Infrastruktur. Mau soal utang, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi jawabnya cuma satu. Infrastruktur. Setelah itu sebarkan foto-foto Jokowi sedang ada di proyek ini, proyek itu. Jokowi kerja. Habis perkara.

Mereka ini adalah orang-orang yang merasa terpanggil untuk membela orang baik. Orang yang sedang terancam oleh politisi-politisi busuk. Orang yang mereka persepsikan punya niat yg mulia. Pakek banget.

Tidak penting bahwa Jokowi tidak memiliki kosa kata yang cukup buat mengungkapkan pikiran. Tidak penting bahwa Jokowi pernah bilang blio tidak membaca dokumen yang ditandatanganinya. Bahkan jika ada yang bilang Jokowi bukan orang pintarpun mereka tidak mempermasalahkan. Yang penting jujur. Buat apa pinter kalau cuma buat menipu atau menggarong negara. Justru kekurangan Jokowi ini memperkuat keyakinan mereka. Jokowi orang baik.

Jadi saya memang paham kenapa konsultan pencitraan Jokowi perlu untuk melabel atau membangun framing bahwa semua lawan Jokowi adalah politisi busuk. Ini adalah aspek penting dari narasi Jokowi.

Menuduh orang radikal atau HTI itu ada dalam kebutuhan itu. Demikian juga menuduh orang korup dan bisa dibeli. Siapapun yang punya masalah dengan Jokowi akan dicari sesuatu yang bisa memperlihatkan kebusukan politisi itu. Mulai Prabowo, Rizieq, Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, daftarnya bisa panjang. Bahkan SBY dan AHY yang tidak punya masalah dengan Jokowi saja perlu dicari-cari bahan buat dicela. Tidak peduli apakah itu hoax atau bukan. Yang penting narasi Jokowi sedang diancam politisi busuk tetap terjaga.

Saya sendiri, dalam tingkat yang lebih rendah, juga mengalami. Sebagai orang yang banyak mengkritisi (atau dalam bahasa mereka adalah menyinyiri) Jokowi, saya banyak mendapat label. Dari mulai orang jahat, spin doctor, orang bayaran sampai hal-hal yang sangat absurd seperti radikal, HTI atau penggemar Rizieq. Sekali lagi, tidak penting apakah tuduhan itu ada bukti pendukungnya. Karena satu hal yang ada di benak mereka. Jokowi orang baik. Kalau ada yang tidak suka, ya pasti orang jahat. Selesai perkara.

Kebutuhan untuk melakukan framing bahwa lawan Jokowi ini adalah orang jahat/busuk ini jelas menimbulkan masalah. Perpecahan sosial terjadi dalam tingkat yang bisa tidak masuk akal. Sebagai contoh anecdotal, ada orang yang tidak diajak arisan karena dia pendukung Prabowo. Di TL (twitter) dalam suatu masa ada trend untuk mengucilkan teman-teman yang mereka sebut sebagai bani bumi datar dari pergaulan mereka. Diajarkan di sana, kalau kenalan dengan orang, mesti diperiksa dulu apakah orang itu penganut bumi datar. Tentu saja yang dimaksudkan di sini bukan benar orang yang percaya bumi datar tapi lebih pada apakah orang itu mendukung Anies di Pilkada DKI. Musuh politik Ahok yang diproyeksikan sebagai musuh Jokowi juga. Separah itu dalam menarik garis kami vs mereka.

Narasi berikut yang terus dibangun adalah presiden-presiden sebelumnya tidak seniat Jokowi dalam membangun. Walaupun fakta dan data tidak mendukung, narasi ini harus tetap hidup. Agar fanatisme itu terjaga. Fakta toh tidak akan pernah diliat juga oleh mereka yg fanatik.

Mereka dengan penuh percaya diri turut mendistribusikan hoax-hoax tentang pembangunan Jokowi. Tidak ada niat jahat di sini. Mereka simply tidak merasa itu hoax. Ada berbagai photo jalan tol yang diaku ada di Sukabumi, Kalimantan atau Papua. Semuanya ternyata adalah photoshop. Dalam pikiran mereka, Jokowi orang baik. Tidak mungkin kubunya memproduksi hoax.

Orang baik inilah sebenarnya titik sentral dalam pencitraan itu. Makanya buat saya agak aneh kalau ingin diinject machismo di situ. Diminta untuk latihan tinju, touring dengan motor atau pidato dengan nada menyerang. Baik untuk 2030 atau kaos ganti Presiden 2019. Semua ini tidak koheren dengan inti makna Jokowi. Pak Jokowi itu justru tidak boleh garang/galak. Nanti tidak dipercaya sebagai victim.

Tidak mudah untuk meruntuhkan narasi ini. Kalau saya paparkan fakta dan argumen betapa kinerjanya B aja, saya justru dianggap sebagai bagian dari politisi-politisi busuk itu. Tidak akan ada yang masuk juga ke benak pendukungnya.

Karenanya jika anda jeli melihat, saya tidak menghabiskan waktu untuk meyakinkan pendukung Jokowi. Buang-buang umur. Target audience saya selalu mereka yang males ama Jokowi. Lebih baik lagi jika males juga ama Prabowo. Dengan memberi fakta dan narasi argumen yang baik, saya ajak mereka untuk berfikir.

Jika saya terlibat dalam debat atau pembicaraan dengan pendukung/buzzer Jokowi, saya menggunakan itu untuk memperlihatkan bahwa mereka itu sedang pakai kacamata kuda. Saya tahu tidak mungkin mengubah pendapat lawan debat. Namun siapa tahu yang menyimak bisa tersadar.

Yang harus diakui, narasi ini organik. Narasi yang memang berasal dari akar rumput. Konsultan pencitraan dan media itu hanya bisa menguatkan. Kerangkanya sudah terbentuk dalam mitos-mitos satria piningit. Tokoh yang tiba-tiba muncul untuk menyelamatkan rakyat dari angkara. Jadi memang susah dilawan.

Untung saja, jumlah pendukung (fanatik) Jokowi ini hanya 40% an. Lebih jauh, mereka seperti kumpulan yang tidak ingin menambah dukungan. Merasa diri sebagai pembela kebenaran, semua orang yang berpendapat berbeda dibully. Karena masih hanya 40%, terbukalah kesempatan untuk mengalahkan Jokowi di 2019.

Yang bakal sulit bagi lawan” Jokowi itu jika ada orang yang cukup waras di kubu Jokowi. Orang yang bisa melihat dukungan sekarang ini masih kurang. Orang yang bisa memberi komando agar berhenti untuk membully dan memulai percakapan yang sehat. Kalau ini yang terjadi, ya saya mau ngurus temen” yg mau jadi caleg aja :

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Tanggapan terhadap press releasenya Bu SMI. Ya gitu deh.

Susah. Kalian mau orang berhenti meributkan nominal atau besarnya utang. Tapi di sisi lain sibuk mengkampanyekan narasi Jokowi berhutang untuk infrastruktur. Kalau mau konsisten dengan pembelaan bu SMI ya ngga boleh keduanya. Jangan cuma mau narasi sendiri.

Anda lihat baik-baik pada aliena pertama butir 3 ini. Jelas SMI menyebut “Orang yang membandingkan nominal utang dengan…bahkan dengan BELANJA INFRASTRUKTUR juga kurang memahami…”. Kata lainnya kalau membandingkan/ menghubungkan ya ngga paham.

Karena memang itu tidak benar. SMI sendiri mengakui:

1) Belanja modal (hard infrastruktur) itu bukan cuma pemerintah pusat. Ini adalah upaya untuk mengatakan kalo persentase belanja modal turun bisa jadi karena faktor pemerintah daerah

2) belanja infrastuktur itu ngga cuma belanja modal. Belanja barang juga.

Implisit dalam statement ini, SMI mengakui belanja modal atau hard infrastruktur dalam pemerintah Jokowi itu ngga istimewa. Karena memang persentasenya sudah saya hitung. Angkanya turun dibanding jaman SBY. Agar apple to apple saya hanya hitung anggaran untuk pemerintah pusatnya saja.

Yang meningkat itu adalah belanja “barang”. Ini yang disebut SMI sebagai soft infrastruktur. Ini yang digunakan untuk memperkuat institusi. Selain juga belanja untuk pemeliharaan.

Bebas. Tapi segala bayangan indah anda tentang pembangunan jalan, jembatan, bandara, sarana telekomunikasi, dan sebangsanya harus anda hilangkan di situ. Soft infrastructure bukan untuk itu.

Selain itu, saya ingin anda untuk melihat betapa piawainya SMI mengalihkan fokus. Saya harus kasih tepuk tangan. Ada hal yg ingin saya soroti. Pertama, pembandingan asset dengan hutang dengan insinuasi berhutang itu bisa nambah asset. Lha?

Asset itu dapatnya dari belanja modal. Atau paling banter hibah yg jumlahnya ngga seberapa itu. Yang lain itu ngga boleh dihitung asset. Lha porsinya turun kok, malah mau dibangga-banggakan.

Lagi pula, asset-asset itu bukan rujukan kredibilitas negara buat berhutang. Surat utang negara itu ngga ada agunannya. Jadi ngapain ngomongin asset? Mengaburkan fokus saja saya kira.

Kedua, soal penurunan defisit kesetimbangan primer. Perlu diketahui kesetimbangan primer ini adalah selisih antara anggaran pendapatan dan belanja yg bukan untuk bayar bunga. SMI bercerita betapa selama pemerintahan Jokowi, angka ini menurun. Good smoke.

Tapi SMI tidak akan membandingkan itu dengan SBY. Pada banyak tahun dalam menjabat, kesetimbangan primer jaman SBY itu surplus. Memang pada tahun terakhir defisit.

Dan kalau dibandingkan persentasenya Jokowi yg sudah turun itu (2018) dengan SB pada tahun 2014, tetap masih lebih besar Jokowi. SBY defisit 54T dari total APBN 1667 T. Sementara Jokowi defisit 87 T dari APBN sebesar 2220 T.

Defisit kesetimbangan primer ini dikendalikan dengan berupaya meningkatkan pendapatan dan mengurangi belanja. SMI terpaksa pakai yg kedua. Karena apa? Karena ngga mampu mempertahankan tax-PDB rationya SBY.

Ketiga, soal penurunan defisit total. Sederhananya defisit total ini adalah defisit karena yg primer + defisit karena bayar utang.

Jokowi pada tahun 2018 memiliki defisit primer 87 T dari total defisit 326 T. Berarti defisit yg terjadi karena pembayaran utang adalah 239 T (73%). SBY di tahun 2014 memiliki total defisitnya 175 T. 54 T nya adalah kesetimbangan primer. Berarti yang karena pembayaran utang adalah 121 T (69%). Angka ini memperlihatkan semakin ke sini, defisit yang terjadi karena pembayaran utang makin besar. Waspada itu perlu.

Jangan salah paham. Saya ngga anti hutang. Bahkan saya setuju dengan SMI tentang kondisi obyektif hutang kita. Masih terkendali. Saya cuma sebal dengan narasi Jokowi berhutang untuk hard infrastruktur. Ngga ada realitasnya.

Pertama, utang itu ngga ada ear marknya. Semua masuk ke APBN. Dari sana dialokasikan ke seluruh post belanja.

Kedua, infrastruktur yang porsinya membesar itu ternyata bukan belanja modal. Bukan hard infrastructure seperti yang selama ini sibuk digembar-gemborkan. Yang membesar adalah belanja barang. Bahkan seorang SMI tidak bisa bantah ini. Fact.

Yang bakal kita lanjutkan diskusinya, kalo beneran mau, ya seberapa produktifitas dari belanja barang infrastruktur itu? Diskusi yang bisa jadi menarik.

Namun, berbeda dengan hard structure yang impactnya masih di masa depan, soft infrastructure ini harus kita rasakan manfaatnya sekarang. Barang habis.

Kalau sudah demikian tentu kita akan bertanya soal multiplier effect terhadap PDB. Lha kalo growth PDB nya aja melambat, situ mau bela pakai apa?

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Pidato AHY dalam tinjauan struktur saintifik tentang Strategi. Ngga ada matinya.

Dalam ilmu manajemen strategi itu dibagi menjadi 2 pertanyaan tentang What to achieve dan 3 pertanyaan tentang How to achieve it. Jadi strategi yang baik harus melibatkan ke-5 hal tersebut.

Pertanyaan What to achieve itu melibatkan 1. Pendefinisian domain dan 2. Pendefinisian goal atau tujuan. Strategi memenangkan pilpres/pileg tentu saja berbeda dengan strategi membangun setelah menang. Beda domain dan goal.

Saya sebut ini karena banyak yang ngga sadar bedanya. Pencitraan adalah salah satu strategi (how to) untuk memenangkan kontes politik. Ada aja yang masih pakai pencitraan setelah berkuasa. Ini ngga nyindir ya. Bukan cuma satu orang. Gejala umum.

Pidato AHY mendefinisikan domainnya dengan jelas. 4 Agenda utama. Keamanan & Perdamaian, Kesejahteraan, Demokrasi, dan Keadilan. Tidak ada yang mengejutkan di sini. Semua politikus harus berfikir tentang 4 hal ini jika benar ia memikirkan rakyat dalam suatu negara demokrasi.

Secara spesifik, tujuannya diperjelas dengan menetapkan 5 sasaran besar yang berupa:

1) Lapangan pekerjaan tersedia lebih banyak.

2) Pendapatan dan daya beli masyarakat lebih tinggi.

3) Kemiskinan makin berkurang.

4) Hubungan antara negara dan rakyat, serta kerukunan sosial lebih baik.

5) Keadilan, kebebasan dan keamanan lebih baik.

Dari sini terlihat bagaimana AHY memandang hubungan antara domain dan goal. Jika kita korespondenkan, kita peroleh:

Kesejahteraan : sasaran 1, 2, 3

Keadilan : sasaran 3, 5

Demokrasi : sasaran 4, 5

Keamanan dan perdamaian : sasaran 4, 5.

Analisa sederhananya,

a. AHY memiliki bobot perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan dibanding yang lain karena punya 3 sasaran. Yang lain cuma dua.

b. Keadilan adalah jembatan antara kesejahteraan dan demokrasi. Anda lihat keadilan dibicarakan dalam konteks kesejahteraan dan juga demokrasi.

c. Demokrasi dipandang harus seiring dengan keamanan dan perdamaian. Mereka dibicarakan pada poin-poin sasaran yang sama.

Saya harus bilang, ada sesuatu yang cerdas di sini. Saat orang-orang ribut ngga jelas soal kelompok bhineka vs kelompok islam, AHY kembali ke isu dasar. Kesejahteraan. Poros AHY adalah poros orang-orang yang melihat masalah utama kita adalah kesejahteraan.

Yang saya suka itu adalah peletakan keadilan diantara kesejahteraan dan demokrasi. Kita pahami dalam spektrum kesejahteraan <~> demokrasi, akan teridentifikasi dua kelompok masyarakat yang berbeda. Kelas bawah, mereka yang dimarjinalkan tentu bicara soal kesejahteraan. Kelas atas dan terdidik tentu bicara soal pentingnya demokrasi. Toh mereka sudah sejahtera.

Bagi AHY, jembatan bagi dua kelompok ini adalah keadilan! Dan ini benar sekali.

Keberpihakan adalah sesuatu hal namun berlaku adil adalah hal yang lebih penting dalam menjebatani dua kepentingan yang berbeda. Anies, di Jakarta berkampanye untuk keberpihakan. Namun saat berkuasa, ia harus berkeadilan. AHY dalam orasinya tidak sedang berkampanye. Ia membayangkan bagaimana kita harus menjembatani dua kelompok ini saat membangun. Ia membayangkan jembatan keadilan.

Yang terakhir tentang bagaimana demokrasi itu harus sejalan dengan keamanan dan perdamaian. Demokrasi itu lokomotif untuk perubahan. Namun koridor dalam setiap perubahan adalah keamanan dan perdamaian. Menemukan ikatan antara dua konsep itu dan menjalinnya adalah tindakan cerdas. AHY.

Pertanyaan How to ada 3 yakni,

a. Menemukan dan memanfaatkan leverage

b. Pengalokasian resource

c. Melakukan sinergi atas sumberdaya yang tersedia.

Apa yang disebut AHY dalam pidatonya sebagai 9 strategi itu sebenarnya adalah rencana pengalokasian sumberdaya. Butir b dalam pertanyaan how to kita. Ada 9 poin.

1. pengurangan dan pelonggaran pajak.

2. melanjutkan pembangunan infrastruktur

3. mengembangkan UMKM dan kewirausahaan.

4. menaikkan gaji pegawai, upah buruh, dan pendapatan masyarakat secara umum.

5. meningkatkan program penanggulangan kemiskinan.

6. meningkatkan dan memperluas layanan kesehatan dan pendidikan.

7. meningkatkan kerukunan antar sesama elemen masyarakat, serta meningkatkan hubungan yang baik dan kemitraan antara negara dan masyarakat.

8. melanjutkan upaya menjaga stabilitas politik dan keamanan

9. melakukan penegakan hukum secara tegas, adil dan bebas kepentingan politik.

Resource deployment ini hanya mempertegas konsistensinya dengan tujuan di depan.

Dari 9 strategi, 6 bicara tentang kesejahteraan ekonomi. Kurang jelas apalagi fokusnya?

Yang menarik 6 strategi kesejahteraannya terbagi rata. 3 untuk kepentingan pertumbuhan (strategi 1,2,3) dan 3 untuk kepentingan pemerataan ( strategi 4,5,6). Ini adalah strategi keseimbangan ala pemerintahan SBY.

Butir a dalam how to yaitu leverage yang dilihat oleh AHY adalah kaum muda. Kaum milleneal. Bagi AHY muda adalah kekuatan dalam pikiran dan tindakan. Muda adalah keberanian dalam melakukan perubahan.

Kita memiliki bonus demografi yang bisa jadi pisau bermata dua. Bisa menjadi kekuatan. Bisa jadi kartu mati. AHY melihat kaum muda dengan optimis. Ia memperjuangkan kesempatan bagi mereka.

“Kesempatan yang setara bagi anak-anak muda untuk maju; kesempatan untuk mengembangkan kapasitas mereka; kesempatan untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri; serta kesempatan untuk memenangkan kompetisi di panggung dunia”.

Kaum muda inilah yang harus menjadi leverage dalam pencapaian tujuan-tujuan pembangunan.

AHY melihat pentingnya sinergi saat menghadapi perubahan jaman yang sangat cepat. Tolong menolong antara mereka yang di depan dan di belakang dalam proses kemajuan. Tentu saja ini adalah sinergi antara pemerintah, inovator dan pengguna tehnologi. Mendorong kemajuan namun jangan sampai ada yg tertinggal di belakang. No man should be left behind.

Pidato yang articulate, lengkap dan dituturkan dengan struktur yang saintifik. Lalu mengapa kalian ragu?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Benarkah oposisi yang tidak kredibel merupakan sumber hoax? Tesis cacat logika.

Dalam ILC baru-baru ini, sekjend PSI Raja Juli Antoni mengeluarkan pernyataan menarik.

Apa yang menjadi SUMBER hoax? Tidak berkualitasnya oposisi. Dikatanya, oposisi lebih sering mengangkat isu-isu yang terkait dengan SARA dan bukan (gagasan) program tandingan terhadap program-program pemerintah. Tesis ini bahkan disebut sebagai tesis utama oleh PSI. Bukan main.

Saya ingin menanggapi sekaligus memperjelas ucapan Rocky Gerung. Kebenaran suatu tesis tidak harus dikaitkan dengan data namun pada koherensi logika dalam suatu pernyataan. Tanpa harus memeriksa apakah benar oposisi yg sekarang lebih rendah kualitasnya, saya ingin tunjukkan bahwa tesis ini cacat logika.

Cacatnya logika dari tesis bisa disimpulkan dari adanya kontradiksi atau fallacy saat dia dihadapkan pada standing theory. Karena itu, pertama, saya harus menghadirkan standing theory tentang perilaku. Memproduksi hoax, bagaimanapun juga adalah suatu perilaku.

Banyak theory tentang perilaku yang tersedia, namun sederhananya, suatu perilaku (terencana) terjadi karena mendatangkan manfaat bagi pelakunya. Nanti ada kendala-kendala bagi perilaku seperti biaya dan resiko. Ada juga faktor moderasi seperti kesempatan dan kapabilitas/keahlian.

Kita bisa saja berdiskusi lebih jauh tentang manfaat-manfaat apa yang diperoleh si pelaku. Apakah utilitarian atau hedonis? Apakah fungsional, emosional atau symbolic? Ada banyak cara mengidentifikasi dan menggolongkan itu. Namun, pada titik ini cukup bagi kita untuk memahami bahwa di balik perilaku selalu ada manfaat yang dirasakan oleh pelakunya.

Mencari sumber/penyebab hoax adalah mencari manfaat apa yang bisa diperoleh dengan memproduksi atau menyebarkan hoax tadi. Manfaatnya bisa kita analisa dalam narasi besar. Bisa juga kita analisa dalam lingkup individual.

Kalau kita bicara hoax politik, narasi besarnya jelas sekali. Mendelegitimasi pemerintah atau menegaskan legitimasi pemerintah. Kita jangan menutup mata sebelah. Jangan cuma dilihat dari sisi oposisi saja. Kita lihat juga dari sisi pendukung pemerintah. Hoax” tentang keberhasilan pemerintah Jokowi itu banyak sekali. Foto” jalan-jalan toll yang diaku sebagai hasil karya Jokowi. Ternyata foto jalan di negara lain.

Di tingkat individu, manfaat memproduksi hoax ini bisa beragam. Yang paling bisa memotivasi tentu uang. Hoax politik hadir karena ada banyak orang yang dibayar untuk itu. Yang bayar siapa? Dari keduabelah pihak juga.

Namun, selain uang, hoax ini hadir karena fanatisme berlebih terhadap “perjuangan”. Fanatisme ini pada gilirannya mengurangi rasa bersalah karena merasa sedang melakukan hal yang benar. Tujuan menghalalkan cara. Kalau anda lihat di sini, fanatisme juga hadir di keduabelah pihak.

Di atas saya sebutkan upaya delegitimasi atau penegasan legitimasi. Raja Juli Antoni bisa punya poin bagus. Upaya delegitimasi vs penegasan legitimasi ini lebih baik jika dilakukan dengan sehat. Dengan cara mengadu gagasan.

Namun mengatakan sumber hoax adalah oposisi yang tidak kredibel itu adalah lompatan logika yang terlalu jauh. Akrobat.

Apa jaminannya pihak pendukung pemerintah tidak melakukan hoax dengan adanya oposisi yang kredibel? Ngga ada. Pihak pendukung pemerintah masih punya motif untuk menegaskan legitimasinya. Masih punya fanatisme untuk memperjuangkan rezim ini dengan cara apapun.

Untuk intervensi perilaku, baik agar perilaku itu berhenti atau justru ingin dipersering (untuk perilaku-perilaku yang baik), kita harus melihat pada hal-hal apa yang bisa kita ubah dari sisi manfaat, biaya, resiko, kesempatan dan kapabilitas itu.

Saat kita ingin mengubah, kita juga tanya apa yang sebenarnya telah berubah seiring dengan maraknya hoax ini. Ini bisa menjadi solusi dalam intervensi kita.

Tesisnya Raja Juli Antoni jelas tidal memberi kita apa-apa. Kualitas oposisi dari dulu ya gini-gini aja. Ngga ada yg berubah secara substansial dari perilaku partai oposisi. Jaman SBY atau jaman Jokowi. Jadi jangan dilihat ke sana.

Saya pribadi melihat, sesuatu yang sangat berbeda dengan masa lampau adalah soal fanatisme. Rasanya waktu pilpres 2009, tidak ada fanatisme itu. Mendukung SBY dengan biasa. Mendukung Ibu Mega dengan biasa juga. Tidak membuat suatu garis demarkasi yang membuat seolah-olah sedang mendukung kebaikan untuk mengalahkan kejahatan.

Hari-hari ini kedua kubu memiliki sentimen yang sama. Kubunya diaku baik dan musuhnya dianggap jahat. Ini yang selalu diamplifikasi oleh elit dan utamanya buzzer-buzzer di sosial media. Ini basian pilpres 2014 dan pilkada DKI 2017.

Ingin menghilangkan hoax ya harus meredam fanatisme ini. Menyadarkan orang bahwa ini kontes politik biasa. Kalau perlu bikin poros baru agar orang tidak terkungkung pada bipolarisasi.

Kalau narasi Raja Juli Antoni dientertain, justru akan membuat sentimennya menjadi lebih dalam. Yang oposisi merasa disalahkan. Ini sangat kontra produktif terhadap hasil yang diharapkan. Yakni berkurangnya hoax. Begitu.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Statistika, logika dan teori. Apa yang harus dipahami?

Statistika itu dibagi atas 2 penggunaan. Deskriptif dan inferensia. Deskriptif adalah alat yang kita pakai untuk memahami data. Semua kesimpulan/pemahaman kita hanya berlaku pada data itu. Period.

Dalam statistika deskriptif tidak dikenal adanya error. Kalau saya bilang rata-rata variable x dari data itu 15.76 unit ya itulah rata-rata nya. Sepanjang kalkulatornya bener ya ngga ada salahnya.

Inferensia itu terjadi jika kita ingin melakukan generalisasi berdasarkan data yang kita kumpulkan. Kalo saya punya sample 2000 record tapi ingin menyimpulkan ke seluruh populasi yg berjumlah 125 juta, ya pasti ada errornya. Jadi, inferensia statistika selalu punya error.

Error dalam inferensia statistika tergantung pada metode penarikan sample, jumlah sample, tipe skala pengukuran dan analisa yang dilakukan. Margin of error yg sering anda baca hanya dengan melihat jumlah sampelnya itu jelas penyederhanaan saja.

Kalau anda bukan statistikawan atau peneliti ya ngga perlu repot untuk menghitung. Tapi penting untuk paham, errornya lahir karena terpilihnya sample memiliki distribusi dengan peluang tertentu. Demikian juga error yg lahir karena jenis analisa. Ada persoalan ketidakpastian di situ. Clear?

Tidak semua statistika inferensia terkait dengan logika. Kadang ia hanya digunakan untuk menguji nilai suatu parameter. Misal saya punya hipotesis elektabilitas Jokowi <=50%. Hasil ujinya cuma 2. Diterima atau ditolak. Period.

Jika diterima, tidak ada juga jaminan 100% itu benar. Ada errornya. Orang statistika punya selang kepercayaan. Misal 95% probability, elektabilitas Jokowi <=50%. Kita ngga akan pernah tahu yg benar. Kecuali surveynya dilakukan pas pilpres. Tapi buat apa?

Logika adalah cara menarik kesimpulan benar dari serangkaian proposisi/ premise. Jika A > B dan B > C maka A > C. Ini adalah pernyataan yang logis. Kalo anda punya A=1, B=4 dan C = 2, pernyataan tadi tetap logis. Toh kita tidak bisa bilang 1 > 2 karena 1 > 4 kan tidak benar.

Inilah yang disebut oleh @rockygerung, logika tidak bisa dinilai dari statistika. Logika harus dinilai dari cara seseorang melakukan proses deduksi atau induksi. Kalau anda punya dua proposi A ~> B, B~>C maka secara logis anda harus berkesimpulan A ~> C. Period.

Apakah A~> C selalu benar? Tidak. Yang selalu benar adalah (A~>B dan B~>C) ~> (A~>C). Ngerti bedanya? Ini yang selalu dijadikan bahan ketawaan oleh RG. Karena seringnya anda ngga ngerti bedanya. Telan aja. 🙂

Sekarang saya masuk ke bahasan statistika dan teori. Statistika itu tidak membentuk teori (kecuali teori pada bidang ilmunya). Dia hanya menguji apakah hypothesis bisa diTOLAK atau tidak. Karena jika ditolak hypothesis itu pasti salah. Jika diterima belum tentu benar. Bingung? :p

Teori itu, jika disederhanakan, selalu berbunyi jika A maka B. Agar teori ini salah, saya harus memperlihatkan ada kasus di mana A benar, tapi B salah. 1 kasus aja cukup.

Di lain sisi jika saya harus memperlihatkan teori itu benar maka saya harus perlihatkan untuk semua A yang benar, B juga selalu benar. Padahal statistika punya komponen error. Ngga bisa pakai statistika.

Jadi, teori harus diuji melalui deduksi atas keberadaan teori-teori sebelumnya. Atau melalui pendefinisian yang ketat terhadap variabel dalam teori baru itu. Apa kaitannya dengan uji statistika? Statistika hanya digunakan untuk memperlihatkan apakah itu bisa dibantah.

Saat statistikanya bilang bisa dibantah, ya kita harus berfikir ulang tentang konstruksi variabelnya atau membatasi lingkup generalisasinya. Perbaiki di situ.

Saat statistika tidak bisa membantah, ya jadilah itu standing theory. Untuk digunakan sebagai acuan teori lain sembari menunggu adanya cara lain untuk membantah. Cara membantahnya? Memperluas variabel yang terlibat dengan berbagai variabel moderasi. Bisa juga memperlihatkan adanya variabel mediasi yang lebih berperan.

Kalau anda mahasiswa S2 atau S3, pemikiran-pemikiran seperti ini yang harus ada saat mencari topik. Mempertanyakan variabel-variabel yang bisa jadi moderasi atau mediasi.

Sebagai dosen, saya tidak bisa menerima argumen bahwa teorinya benar karena terbukti secara statistika. Ini yang sering diucapkan mahasiswa. Keliru.

Suatu teori benar karena sudah dideduksi dari teori-teori yg ada dengan benar. Itupun dia harus menjelaskan hanya pada kondisi-kondisi penelitian yang dia lakukan. Dan hanya pada konstruksi-kontruksi variabel yang ada di penelitian itu. Statistiknya hanya digunakan untuk bilang, teori dia belum bisa dibantah. Begitu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment