Kurikulum 2013: Mau Apa Sih Pak?

Saya sadar tidak mudah untuk menyusun kurikulum pendidikan untuk menghasilkan peserta didik seperti yang diamanatkan UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Disana ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. What a bullshit.

Bandingkan dengan tujuan pendidikan untuk sekolah negeri di Texas

“The mission of the public education system of this state is to
ensure that all Texas children have access to a quality education
that enables them to achieve their potential and fully participate
now and in the future in the social, economic, and educational
opportunities of our state and nation.”

Kita bisa lihat betapa jauhnya cara befikir pendidik kita dengan mereka (pendidik di Texas) terhadap apa yang ingin dihasilkan dari sistem pendidikan. Apakah artinya pendidik di Texas mengabaikan pentingnya akhlak mulia atau tanggung jawab sebagai warga Negara? Tentu tidak. Namun mereka sadar bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab keluarga dan masyarakat dan bukan Negara.

Fokus pendidikan mereka jelas yakni membuat anak didik mereka bisa memaksimumkan potensi mereka dalam peluang ekonomi, sosial atau pendidikan di masa sekarang dan masa depan. Sementara kita? Apakah ada tujuan untuk membuat mereka bisa melanjutkan pendidikannya? Sangat samar. Akan ada orang yang bilang dengan berilmu maka dia bisa melanjutkan pendidikannya. Tapi jelas berilmu itu tersembunyi didalam rangkaian beban lain. Hal yang sama juga berlaku untuk pertanyaan apakah pendidikan kita bisa memaksimumkan potensi mereka untuk memanfaatkan peluang ekonomi atau sosial.

Baiklah. Mungkin karena kita adalah manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila *sigh maka kita harus memiliki sistem pendidikan seperti di atas. Kita harus memiliki dua mata ajaran yakni Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Tapi haruskah kurikulum pendidikan dasar kita disusun dengan membuat akhlak mulia dan tangggung jawab bernegara itu sebagai pusat perhatian?

Untuk tingkat SD, dalam usulan kurikulum baru ini terdapat peningkatan persentase dua mata ajaran ngga penting ini dari sekitar 15% ke 28% dari total jam pengajaran. Terus terang saya tidak bisa melihat manfaat dari penambahan ini. Apakah anak-anak kita akan bertambah mulia akhlaknya? Apakah semakin bertanggung jawab sebagai warga negara. You bet they don’t. Karena bagaimanapun juga kedua hal itu lebih banyak ditentukan ditingkat keluarga dan masyarakat. Mau diajar seperti apapun di sekolah kalau contoh yang didapatkan mereka dalam kehidupan sehari hari adalah pengabaian terhadap hukum dan aturan, mereka akan mengadopsi nilai nilai dilingkungannya itu. There goes your 30% of education time for nothing.

Hal kedua yang menjadi concern dalam kurikulum ini ada pada bagian konsepsi ideal tentang pengelolaan kurikulum. Dalam kurikulum 2013 ini diidealkan bahwa pengelolaan kurikulum:

1. Pemerintah Pusat dan Daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan
2. Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah.
3. Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman

Ada aroma sentralisasi yang kuat disini.
Untuk mata ajaran hard science, dampaknya mungkin tidak terasa. Pada akhirnya satu ditambah satu adalah dua.

Namun sosial science memiliki nuansa yang berbeda. Ada faktor penafsiran yang membuat penyeragaman hanya menjadikan mata ajaran itu kering dan tidak berpijak. Ambil contoh tema pelajaran SD kelas 1 di 4 minggu pertama tentang jujur, tertib dan bersih. Bagaimana guru di daerah yang kekurangan air akan mengajarkan bahwa bersih itu artinya mandi 2 kali sehari? Kalau buku teks nya disiapkan oleh Jakarta, you bet hal-hal seperti ini akan terjadi.

Lebih penting lagi, saya tidak mau Negara menafsirkan agama buat anak-anak saya. Pada tingkat yang lebih tinggi misalkan di SMA saya tidak mau anak saya harus belajar tentang Sejarah Islam dari tafsir Negara. Saya tidak mau anak saya belajar tentang Pancasila seperti tafsir Soeharto. Hal-hal seperti ini.
Saya sadar bahwa mungkin lebih banyak orang tua yang ingin anakanya di ajar agama atau pancasila dengan tafsir yang ada sekarang.

Kalau satuan pendidikan diperkenankan untuk menyiapkan komponen kurikulumnya setidaknya kami masih punya pilihan Saya bisa memilih sekolah yang lebih dekat dengan pandangan agama dan ideologi saya.

Yang ketiga, tentang penghilangan mata ajaran IPA dan IPS di SD, sepertinya telah ramai dibicarakan. Kelihatannya ada kemauan dari perancang kurikulum ini untuk mendengarkan. Diberikan alternatif pengajaran IPA dan IPS sejak kelas 4 atau kelas 5.  Bagi saya lebih cepat lebih baik. Dan saya bisa memahami bahwa untuk murid kelas 1 sampai 3 memang pengajaran IPA dan IPS sebagai mata ajaran tersendiri agak berlebihan.

Selebihnya bahan uji publik untuk Kurikulum 2013 ini adalah 99 looking smart charts yang tidak berbunyi apa-apa bagi saya yang awam ini.

Yang saya tahu, kurikulum 2013 ini tidak akan mengubah apa-apa tanpa peningkatan kompetensi dan renumerasi pendidik.

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s